KARIMUN, KepriHeadline.id – Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau (Kepri), masuk dalam tiga besar daerah dengan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) tertinggi di Provinsi Kepri.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karimun mencatat, hingga September 2026 terdapat 40 orang yang dinyatakan positif HIV dari total 9.678 orang yang telah menjalani pemeriksaan.
Sementara itu, kasus AIDS tercatat sebanyak 19 kasus dengan dua orang di antaranya meninggal dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2025. Pada periode tersebut, ditemukan 51 kasus HIV positif dari 11.983 orang yang menjalani pemeriksaan.
Adapun kasus AIDS pada 2025 mencapai 23 kasus dengan sembilan orang meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun, Soerjadi, mengatakan pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk menekan penyebaran HIV/AIDS, mulai dari edukasi, sosialisasi hingga memperluas akses pemeriksaan bagi masyarakat.
“Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi salah satu langkah penting, terutama untuk meningkatkan pemahaman mengenai cara penularan serta pencegahan HIV/AIDS,” kata Soerjadi, Jumat (6/11/2026).
Kelompok Usia Produktif Mendominasi
Berdasarkan kelompok usia, kasus HIV positif di Karimun sepanjang 2026 paling banyak ditemukan pada rentang usia 30-49 tahun, yakni sebanyak 25 orang.
Selanjutnya, kelompok usia 15-29 tahun sebanyak 13 orang. Sementara itu, kelompok usia di bawah empat tahun dan di atas 50 tahun masing-masing tercatat satu kasus.
Soerjadi menjelaskan, Dinkes Karimun telah membentuk tim khusus untuk melakukan penyampaian informasi, penyuluhan, serta upaya pencegahan HIV/AIDS.
Edukasi tersebut menyasar berbagai kelompok masyarakat, terutama kalangan remaja dan usia produktif agar memiliki pemahaman yang benar mengenai penyakit tersebut.
Selain sosialisasi, Dinkes Karimun juga mendorong masyarakat agar tidak ragu melakukan pemeriksaan HIV/AIDS.
Saat ini, seluruh puskesmas di Kabupaten Karimun telah menyediakan layanan pemeriksaan HIV/AIDS yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Kami terus melakukan sosialisasi terkait HIV/AIDS. Pemeriksaan juga sudah tersedia di seluruh puskesmas, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut untuk mengetahui kondisi kesehatannya,” ujarnya.
Stok Obat ARV Dipastikan Mencukupi
Terkait penanganan pasien, Soerjadi memastikan ketersediaan obat antiretroviral (ARV) di Kabupaten Karimun dalam kondisi mencukupi.
ARV merupakan obat yang digunakan untuk menekan perkembangan virus HIV di dalam tubuh. Pengobatan ini membantu menjaga kondisi kesehatan orang dengan HIV (ODHIV) agar tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam proses penanganan, pasien juga mendapatkan pendampingan dari tenaga kesehatan khusus yang telah mengikuti pelatihan.
Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan pasien memperoleh informasi dan pelayanan yang tepat selama menjalani pengobatan.
Soerjadi mengatakan, selain rutin mengonsumsi obat ARV, pasien juga perlu menerapkan pola hidup sehat serta mendapatkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Menurut dia, tantangan dalam penanganan HIV/AIDS bukan hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.
“Karena itu, kami terus memberikan edukasi mengenai HIV/AIDS, termasuk menjelaskan bagaimana penyakit tersebut dapat menular dan bagaimana cara pencegahannya di masyarakat,” katanya.
LSL dan Pelanggan Pekerja Seks Dominasi Kelompok Risiko
Berdasarkan kelompok risiko, kasus HIV positif di Karimun pada 2026 paling banyak ditemukan pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) dan pelanggan pekerja seks (PS), masing-masing sebanyak sembilan kasus.
Selanjutnya, kelompok risiko lainnya tercatat tujuh kasus, pasangan risiko tinggi enam kasus, penderita tuberkulosis (TB) empat kasus, wanita pekerja seks (WPS) tiga kasus, serta ibu hamil dan waria masing-masing satu kasus.
Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual yang berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian, serta dari ibu kepada anak selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui.
Soerjadi mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun melakukan diskriminasi terhadap orang dengan HIV.
Dia berharap peningkatan pemahaman masyarakat dapat membuat orang yang membutuhkan pemeriksaan maupun pengobatan tidak lagi merasa takut mendatangi fasilitas kesehatan.
Dengan pemeriksaan sejak dini, pengobatan ARV secara rutin, serta dukungan keluarga dan lingkungan, penanganan HIV/AIDS di Kabupaten Karimun diharapkan dapat berjalan lebih optimal.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah






