Karimun, KepriHeadline.id – Angka stunting di Kabupaten Karimun melonjak menjadi 21,4 persen pada 2024. Capaian ini sekaligus menempatkan Karimun sebagai daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), dan berada di atas rata-rata nasional yang tercatat 19,8 persen.
Kenaikan ini dinilai ironis, mengingat pemerintah daerah selama ini mengklaim telah melakukan intervensi gizi secara masif di berbagai lini.
Bupati Karimun, Iskandarsyah, menegaskan bahwa pemerintah daerah memandang lonjakan tersebut sebagai persoalan serius yang harus segera ditangani secara komprehensif.
“Kita pemerintah akan mengidentifikasi masalahnya di mana. Tapi yang pasti persoalan kita ini adalah kemiskinan. Makanya harus kita buka lapangan kerja yang seluas-luasnya,” ujar Iskandarsyah.
Ia mengatakan, pemerintah sedang menyiapkan langkah jangka pendek berupa intervensi gizi, penguatan SDM kesehatan, bantuan stimulus, hingga penyediaan anggaran khusus untuk penurunan stunting melalui dana cadangan.
Bupati juga meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), BKKBN, hingga unsur TNI untuk dilibatkan dalam percepatan penanganan.
“Kami minta diperhatikan lagi terkait data-data 21,4 persen itu. Di mana letak kelemahan kita, bila perlu kita ajak seluruh OPD, BKKBN dan TNI untuk menangani ini,” ujarnya.
Selain intervensi teknis, ia menyoroti perlunya perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam pola asuh anak, pemberian ASI eksklusif, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Perbedaan Metode Pengukuran, Data Bikin Bingung Daerah
Plt Kepala Dinas P2KBP3A Karimun, Yeli, mengungkapkan adanya perbedaan mencolok antara dua metode pengukuran stunting yang digunakan pemerintah, sehingga membuat tim percepatan stunting daerah kesulitan membaca data secara akurat.
Menurut dia, berdasarkan data e-PPBGM yang mengukur tinggi badan terhadap umur, angka stunting Karimun hanya 7 persen. Angka tersebut bahkan lebih rendah dari rata-rata Kepri dan nasional.
Namun, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI/SKI) menunjukkan angka 21,4 persen, yang menjadi dasar penetapan status Karimun sebagai daerah dengan prevalensi tertinggi di Kepri.
“Kami tim percepatan stunting agak bingung. Terus hasil rilis itu tidak disampaikan ke kami data-datanya kenapa Karimun berada di angka 21,4 persen itu,” kata Yeli.
Yeli juga mencatat tren peningkatan prevalensi stunting di Karimun dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022 angka stunting tercatat 13,3 persen, naik menjadi 17,9 persen pada 2023, dan kembali melonjak ke 21,4 persen pada 2024.
“Angka terus naik, padahal intervensi sudah terus kita lakukan. Bahkan di Juni 2024 itu sudah diintervensi, tapi tidak ada manfaatnya,” ujar dia.
Secara wilayah, sebaran stunting tertinggi berada di Kecamatan Tebing, khususnya Desa Pongkar. Sementara itu, Kecamatan Selat Mi berhasil mempertahankan status zero stunting.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah






