KARIMUN, KepriHeadline.id – Kualitas udara di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, mengalami penurunan akibat dampak sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah wilayah di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karimun menyebut asap yang menyelimuti Karimun merupakan polusi kiriman yang terbawa oleh pergerakan angin dari wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.
Forecaster BMKG Karimun, Younggy Hutabarat, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan, Karimun masih terdampak sebaran asap hingga Kamis (8/10/2026).
“Sampai dengan saat ini kita masih terkena dampak sebaran asap. Berdasarkan hasil pengamatan kita, sebarannya berasal dari Kalimantan dan Sumatra bagian Selatan,” kata Younggy saat ditemui, Kamis.
Dari hasil pemantauan kualitas udara, konsentrasi partikel udara berukuran sangat kecil atau PM2,5 di Karimun tercatat mencapai 48,3 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut membuat kualitas udara berada pada kategori sedang hingga kurang sehat.
Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.
Menurut Younggy, kondisi tersebut tidak terlepas dari pola pergerakan angin yang saat ini membawa massa udara dari wilayah sumber karhutla menuju Karimun.
“Angin secara umum dari Kalimantan bergerak ke arah barat. Sementara angin dari Sumatera Selatan bergerak ke arah utara,” jelasnya.
Pergerakan angin tersebut kemudian membawa partikel asap dari wilayah yang mengalami karhutla hingga mencapai Karimun.
Kapan kabut asap berkurang?
BMKG belum dapat memastikan kapan kondisi kabut asap di Karimun akan berakhir.
Younggy mengatakan, lama atau tidaknya dampak kabut asap sangat bergantung pada kondisi kebakaran di wilayah sumber serta upaya penanganan yang dilakukan.
“Karena angin masih mengarah ke kita, jadi masih terdampak asap. Kapan akan berkurang tentu tergantung penanganannya di sana seperti apa,” ujarnya.
Selama arah angin masih membawa massa udara dari wilayah sumber karhutla menuju Karimun, potensi terjadinya penurunan kualitas udara masih ada.
Dengan kondisi kualitas udara yang menurun, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan.
Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada kelompok rentan, termasuk masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Warga yang memiliki penyakit asma disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan partikel PM2,5.
Masyarakat juga diimbau memantau kondisi kualitas udara dan segera mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara semakin memburuk.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah







