Waduk Tempan Kundur Kritis, Pasokan Air 800 Pelanggan di Kundur Terancam Dihentikan Sementara

- Author

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Waduk Tempan Kundur Kritis, Pasokan Air 800 Pelanggan di Kundur Terancam Dihentikan Sementara

Waduk Tempan Kundur Kritis, Pasokan Air 800 Pelanggan di Kundur Terancam Dihentikan Sementara

KARIMUN, KepriHeadline.id – Pasokan air bersih bagi sekitar 800 pelanggan di Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, terancam dihentikan sementara.

Kondisi itu terjadi setelah debit air Waduk Tempan yang menjadi sumber air baku utama wilayah Kundur menyusut drastis akibat minimnya curah hujan dan dampak fenomena El Nino.

Direktur Utama Perumda Tirta Mulia Karimun, Ferry Kurniawan, mengatakan Waduk Tempan kini telah memasuki kondisi kritis atau ekstrem.

Menurut dia, permukaan air waduk telah menyusut sekitar 3,5 meter dari kedalaman normal yang mencapai 4 meter.

“Waduk Tempan merupakan waduk tadah hujan yang tidak memiliki mata air alami, sehingga sangat rentan menyusut cepat saat kemarau,” kata Ferry, Minggu (16/8/2026).

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat Perumda Tirta Mulia Karimun harus mengambil langkah darurat untuk menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih kepada masyarakat.

Jika tidak ada hujan dalam beberapa hari ke depan, distribusi air untuk wilayah pelayanan Cabang Kundur diperkirakan terpaksa dihentikan sementara.

“Karena penyusutan sudah sangat ekstrem, kami memperkirakan dalam seminggu ke depan proses pendistribusian air untuk wilayah pelayanan Kundur terpaksa kami berhentikan sementara,” ujarnya.

Penghentian distribusi tersebut berpotensi berdampak langsung terhadap sekitar 800 sambungan rumah (SR) pelanggan di wilayah Kundur.

Sejumlah Waduk Ikut Menyusut

Penurunan debit air baku tidak hanya terjadi di Pulau Kundur. Kondisi serupa juga terpantau di sejumlah sumber air baku di Pulau Karimun Besar.

Ferry menyebutkan, Waduk Sei Bati yang melayani wilayah Kecamatan Karimun, khususnya kawasan Balai Kota, juga mengalami penyusutan.

Berdasarkan pemantauan terbaru, kedalaman Waduk Sei Bati berkurang sekitar 3 meter dari kondisi normal 10 meter.

Meski mengalami penurunan cukup signifikan, kondisi Waduk Sei Bati saat ini belum masuk kategori ekstrem.

Sementara itu, kondisi dua waduk utama lainnya di Pulau Karimun masih relatif aman untuk jangka panjang.

Waduk Pongkar yang melayani sebagian wilayah Kecamatan Tebing dan Meral memiliki kedalaman normal sekitar 14 meter. Saat ini, penyusutannya tercatat kurang dari 1 meter.

Adapun Waduk Sentani yang melayani sebagian besar wilayah Kecamatan Meral memiliki kedalaman normal 10 meter dan baru menyusut sekitar 1 meter.

Penurunan debit juga terjadi pada sumber air baku di sejumlah wilayah pelayanan lainnya.

Waduk Layang Sawang yang melayani Cabang Kundur Barat menyusut sekitar 1,5 meter dari kedalaman normal 5 meter.

Sementara Waduk Sido Dadi yang menjadi sumber air baku Cabang Moro mengalami penyusutan sekitar 50-60 sentimeter dari kedalaman normal 5 meter.

Masyarakat Diminta Hemat Air

Menghadapi kondisi tersebut, Perumda Tirta Mulia Karimun mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air bersih.

Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan hanya sesuai kebutuhan untuk mengantisipasi kemungkinan berlanjutnya musim kemarau.

Ferry mengatakan, apabila kondisi kemarau terus berlangsung dan debit air baku semakin menurun, pihaknya akan menerapkan sistem distribusi secara bergiliran di wilayah yang sumber air bakunya mengalami penyusutan ekstrem.

“Jika kondisi kemarau ini terus berlanjut, kami akan memberlakukan sistem skema giliran distribusi air untuk wilayah yang sumber air bakunya menyusut ekstrem,” katanya.

Selain langkah pengaturan distribusi, Perumda Tirta Mulia Karimun juga berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mencari solusi menghadapi ancaman kekeringan.

Koordinasi dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Karimun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk membantu meningkatkan ketersediaan air baku.

(*)

Penulis : Ricky Robian Syah

Editor : Ricky Robian Syah

Follow WhatsApp Channel www.kepriheadline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PLN Ungkap Penyebab Sementara Blackout Karimun pada Jumat Pagi
Libatkan 58 UMKM, Karimun Weekend Market Vol. 3 Dibuka Hari Ini !
Kabut Asap Makin Parah, Seluruh Siswa PAUD hingga SMP di Karimun Dipulangkan
Listrik Karimun Blackout Lagi, Apa Penyebabnya?
Kualitas Udara Karimun Menurun, Asap Karhutla dari Sumatera dan Kalimantan Masih Kepung Karimun
Blackout Berjam-jam di Karimun, Kompensasi 60 Ribu Pelanggan Masih Diproses
Dibutuhkan Warga Pulau, Ambulans Laut Bantuan Pemprov Kepri Malah Setahun Mangkrak di Dermaga Parit
P4MI Karimun Fasilitasi 7 PMI Berangkat Kerja ke Serbia

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:22 WIB

PLN Ungkap Penyebab Sementara Blackout Karimun pada Jumat Pagi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Libatkan 58 UMKM, Karimun Weekend Market Vol. 3 Dibuka Hari Ini !

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:28 WIB

Kabut Asap Makin Parah, Seluruh Siswa PAUD hingga SMP di Karimun Dipulangkan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 12:21 WIB

Listrik Karimun Blackout Lagi, Apa Penyebabnya?

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:02 WIB

Kualitas Udara Karimun Menurun, Asap Karhutla dari Sumatera dan Kalimantan Masih Kepung Karimun

Berita Terbaru

Petugas PLN melakukan perbaikan terhadap mesin jaringan listrik. Foto: Istimewa/kepriheadline.id

KARIMUN

Listrik Karimun Blackout Lagi, Apa Penyebabnya?

Jumat, 9 Okt 2026 - 12:21 WIB