TANJUNGPINANG – Impian puluhan atlet panjat tebing untuk berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepulauan Riau (Kepri) VI 2026 terancam pupus setelah pertandingan cabang olahraga (cabor) tersebut diputuskan batal digelar.
Keputusan itu memicu kekecewaan mendalam di kalangan atlet yang telah menjalani persiapan selama berbulan-bulan. Bahkan, suasana haru dan tangis pecah setelah mereka mengetahui peluang untuk menunjukkan kemampuan di ajang olahraga tingkat provinsi itu terancam hilang.
Polemik pembatalan pertandingan panjat tebing bermula dari protes empat Pengurus Cabang (Pengcab) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), yakni Tanjungpinang, Bintan, Karimun, dan Natuna.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keempat Pengcab tersebut mempersoalkan keabsahan empat atlet yang didaftarkan kontingen Kota Batam. Mereka menduga para atlet tersebut berasal dari luar Provinsi Kepri sehingga mempertanyakan pemenuhan persyaratan untuk mengikuti Porprov Kepri VI 2026.
Persoalan tersebut kemudian dibahas dalam perundingan yang berlangsung alot hingga Senin (2/11/2026) malam di Hotel Pelangi, Tanjungpinang.
Namun, pertemuan itu justru berujung pada keputusan pembatalan seluruh pertandingan cabor panjat tebing oleh Ketua KONI Kepri.
Ketua Umum KONI Tanjungpinang, Abdul Halim, menyayangkan keputusan tersebut. Menurut dia, pembatalan pertandingan bukan solusi yang tepat karena berpotensi merugikan puluhan atlet yang telah mempersiapkan diri untuk bertanding.
“Ajang ini adalah perhelatan besar untuk membangun prestasi pemuda di dunia olahraga. Ketika polemik ini muncul, solusinya sebenarnya sederhana: bersikap adil dan fair saja,” ujar Abdul Halim seusai perundingan bersama empat Pengcab.
Halim menilai Panitia Besar (PB) Porprov sebelumnya telah menjalankan tugas sesuai prosedur, termasuk melakukan pemeriksaan terhadap persyaratan dan keabsahan atlet.
Karena itu, dia menyayangkan munculnya keputusan pembatalan yang dinilainya tidak sejalan dengan proses yang telah dilakukan panitia.
“PB Porprov sudah melakukan tugasnya. Kalau ada keputusan sepihak, itu diktator dan tidak baik buat pembinaan olahraga. Kita semua sudah mendengar keluh kesah adik-adik atlet, bagaimana mereka berdarah-darah menyiapkan diri untuk bertarung di ajang ini,” tegasnya.
Dia berharap Ketua KONI Kepri mempertimbangkan kembali keputusan pembatalan tersebut agar para atlet tetap mendapatkan kesempatan bertanding.
“Saya berharap Ketua KONI Kepri menarik balik kata-kata itu. Mungkin keputusan itu berangkat dari emosi saat rapat. Tapi paling tidak, hargailah apa yang sudah dianalisis, diriset, dan diputuskan oleh PB Porprov terkait keabsahan,” kata Halim.
Atlet Kecewa Setelah Berbulan-bulan Berlatih
Kekecewaan juga dirasakan langsung oleh para atlet. Mereka mengaku terpukul karena kesempatan bertanding yang telah dipersiapkan melalui latihan intensif justru terancam hilang akibat polemik administrasi dan keabsahan atlet.
Aprilia, salah seorang atlet panjat tebing kontingen Tanjungpinang, mengungkapkan kemarahannya atas keputusan tersebut.
Dia menilai tidak seharusnya perjuangan puluhan atlet yang telah menjalani latihan keras dikorbankan akibat persoalan keabsahan empat atlet kontingen Batam.
“Jangan hanya karena empat orang atlet yang tidak jelas asalnya, mengorbankan kami yang telah bekerja keras selama ini untuk Porprov,” ujar Aprilia dengan nada emosional.
Aprilia juga membantah anggapan bahwa protes yang disampaikan empat Pengcab FPTI dilatarbelakangi ketakutan menghadapi kekuatan kontingen Batam.
Menurut dia, para atlet tidak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi lawan. Mereka hanya ingin mendapatkan kesempatan bertanding secara adil dan menunjukkan hasil latihan selama ini.
“Kalau berpikir kami takut dengan Batam, itu salah besar. Kami tidak takut dengan Batam. Kami hanya ingin bertanding, urusan menang belakangan. Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk daerah kami,” tegasnya.
Hingga kini, para atlet dan pengurus cabang masih berharap KONI Kepri meninjau ulang keputusan pembatalan pertandingan tersebut.
Mereka meminta agar polemik keabsahan atlet diselesaikan secara adil tanpa harus menghilangkan kesempatan puluhan atlet lainnya untuk berkompetisi pada Porprov Kepri VI 2026.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah






