SLEMAN, KepriHeadline.id – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika atau pertukaran pemikiran di lingkungan akademik.
Menurut Nusron, kampus harus menjadi ruang terbuka bagi berbagai gagasan, termasuk pemikiran yang kritis terhadap pemerintah maupun kebijakan negara.
Hal itu disampaikan Nusron saat memberikan sambutan dalam kuliah umum bertajuk “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” di Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).
Kuliah umum tersebut menghadirkan pengamat dan filsuf Rocky Gerung sebagai salah satu narasumber.
“Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Nusron.
Pertukaran gagasan memperkaya wawasan
Nusron mengatakan, perbedaan pemikiran seharusnya tidak dianggap sebagai persoalan. Sebaliknya, pertukaran gagasan dapat memperkaya wawasan dan cara pandang seseorang.
Ia kemudian menggambarkan manfaat pertukaran pemikiran tersebut melalui analogi dua buah apel yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.
“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” kata Nusron.
Menurut dia, kondisi berbeda terjadi ketika yang dipertukarkan adalah pemikiran.
Jika dua orang dengan gagasan berbeda saling bertukar pikiran, masing-masing akan mendapatkan perspektif baru.
“Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” ujar Nusron.
Ia berharap tradisi kuliah umum dan dialektika berpikir terus dikembangkan di lingkungan Politeknik Agraria STPN.
“Sharing pendapat itu akan menjadikan kita kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” kata Nusron.
Rocky Gerung: Pikiran harus bisa dibantah
Dalam kesempatan yang sama, Rocky Gerung menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya perdebatan dalam proses pertukaran gagasan.
Menurut Rocky, pemikiran harus terbuka untuk diuji dan diperdebatkan agar dapat berkembang.
“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa tidak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky.
Di hadapan para taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN, Rocky juga menggunakan pendekatan filosofis untuk mengajak peserta melihat kembali akar dari berbagai konsep dan pemikiran.
“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” kata Rocky.
Tiga cara memaknai tanah
Dalam kuliah umum tersebut, Rocky juga menyampaikan tiga cara pandang mengenai pemaknaan tanah, yakni dari perspektif masyarakat adat, negara, dan korporasi.
Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur.
Sementara bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum.
Adapun bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.
Kuliah umum tersebut diikuti sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Pelaksana Tugas Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah







