KARIMUN, KepriHeadline.id – Krisis kelistrikan yang melanda Pulau Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, masih berlanjut hingga Selasa (21/7/2026). PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tanjung Balai Karimun terus melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pemulihan sistem kelistrikan yang lumpuh akibat kerusakan pada jaringan dan peralatan pembangkit.
Manager PLN ULP Tanjung Balai Karimun Ahmad Subhan mengatakan, proses pemulihan kini diperkuat dengan kedatangan tim teknis dari luar daerah serta tambahan peralatan pendukung.
Sebanyak 10 personel dari PLN Tanjungpinang dan 11 personel pendukung dari Pekanbaru telah diterjunkan untuk membantu proses perbaikan di lapangan.
“Saat ini tim dari Pekanbaru sudah tiba dan sedang melakukan perbaikan. Kami juga mendapat bantuan peralatan penghubung baru dari Pekanbaru yang masih dalam proses pengiriman melalui Pelabuhan Buton,” kata Ahmad Subhan di Kantor PLN Karimun, Selasa.
Selain itu, lima unit peralatan bantuan dari PLN Tanjungpinang juga sedang dikirim menggunakan kapal Ro-Ro dan diperkirakan tiba di Karimun pada Selasa malam atau paling lambat Rabu (22/7/2026) pagi.
Untuk mempercepat distribusi peralatan dari Pekanbaru, PLN bahkan menyewa kapal khusus agar pengiriman dapat segera dilakukan setelah memperoleh izin berlayar dari KSOP.
Di tengah proses pengiriman bantuan tersebut, tim teknis PLN terus membongkar komponen yang mengalami kerusakan sekaligus memperbaiki mesin pembangkit yang masih memungkinkan dioperasikan kembali.
Ahmad Subhan mengatakan, PLN menargetkan pada Selasa malam dapat menambah satu hingga dua penyulang agar lebih banyak wilayah terdampak dapat kembali menikmati aliran listrik.
“Mungkin agak malam kami bisa menambah satu penyuplai lagi. Mudah-mudahan ada satu sampai dua penyulang tambahan sehingga daerah-daerah lain yang masih padam bisa segera dialiri listrik,” ujarnya.
Tiga Penyulang Sudah Beroperasi
Hingga Selasa siang, PLN telah berhasil mengoperasikan tiga dari total tujuh penyulang yang ada di sistem kelistrikan Karimun.
Ketiga penyulang tersebut melayani kawasan Poros, Baran, belakang RSUD Muhammad Sani hingga Batu Lipai.
“Saat ini baru tiga penyulang yang berhasil kami hidupkan. Salah satunya kami operasikan dengan beban lebih besar dari biasanya agar dapat menjangkau lebih banyak pelanggan,” kata Ahmad Subhan.
Ia menjelaskan, wilayah Poros menjadi salah satu prioritas karena memiliki jaringan yang terisolasi sehingga tidak dapat disuplai dari penyulang wilayah lain.
PLN juga terus berupaya menghidupkan kembali pasokan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan menyambungkan jaringan menuju Jalan Nusantara hingga kawasan Coastal Area.
“Dari total tujuh penyulang, sebenarnya hanya dua yang benar-benar aman untuk dioperasikan. Namun saat ini kami terus melakukan pengondisian agar bisa menambah satu penyulang lagi secepatnya,” ujarnya.
Pemadaman Bergilir Belum Bisa Diterapkan
Ahmad Subhan menjelaskan, masih adanya sejumlah wilayah yang belum memperoleh aliran listrik bukan karena PLN tidak ingin menerapkan pemadaman bergilir.
Menurut dia, sistem pemadaman bergilir hanya dapat dilakukan pada jaringan yang masih beroperasi normal.
“Pemadaman bergilir hanya bisa dilakukan di wilayah yang sedang menyala. Untuk daerah yang masih padam bukan kami tidak ingin bergantian, tetapi sumber pasokannya memang mengalami kerusakan sehingga empat jaringan yang saling terhubung tersebut belum dapat dioperasikan,” katanya.
Saat ini, Satgas Perbaikan Kelistrikan Karimun terus berupaya meningkatkan kapasitas pasokan listrik secara bertahap sambil menunggu seluruh peralatan bantuan tiba di Karimun.
Target Pulih Jumat
PLN menargetkan proses penormalan sistem kelistrikan di Pulau Karimun dapat diselesaikan paling lambat pada Jumat (24/7/2026).
Meski demikian, Ahmad Subhan berharap pemulihan dapat berlangsung lebih cepat apabila perbaikan terhadap peralatan yang rusak berhasil diselesaikan sebelum seluruh mesin bantuan tiba.
“Kami diberi target sampai Jumat. Namun kami terus berusaha agar pemulihan bisa selesai lebih cepat dengan memaksimalkan perbaikan terhadap peralatan yang masih bisa dioperasikan,” kata dia.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah







