JAKARTA, KepriHeadline.id – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan langsung di dalam kelas.
Uji coba tersebut telah diterapkan di lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, melalui skema ini makanan dari dapur SPPG akan diantar ke sekolah dalam kondisi hangat.
Setibanya di sekolah, makanan kemudian disajikan secara prasmanan di kelas dan dikonsumsi langsung oleh para siswa.
“Saat ini, dari tanggal 5, kita sudah piloting mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa hangat-hangat ke kelas kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono dilansir dari Voi.id, Senin (5/10/2026).
Menurut Sudaryono, sistem tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas makanan yang diterima siswa. Makanan yang disajikan dalam kondisi hangat dinilai lebih segar karena waktu antara makanan tiba dan dikonsumsi menjadi lebih singkat.
BGN juga berharap skema tersebut dapat menekan risiko makanan rusak yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
“Kami harapkan doa dan dukungannya kita bisa lebih luas. Sehingga satu, makanannya lebih enak karena hangat, yang kedua tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu,” kata Sudaryono.
Selain menjaga kualitas makanan, penerapan sistem prasmanan di kelas juga memiliki fungsi edukasi.
Sudaryono mengatakan, sekolah dan pengelola dapur SPPG akan mendapatkan pelatihan sebelum sistem tersebut diterapkan secara lebih luas.
Para siswa juga akan dilibatkan dalam proses penyajian makanan. Mereka dijadwalkan secara bergantian untuk membantu melayani teman-teman sekelas saat jam makan siang.
Siswa yang bertugas diwajibkan menggunakan perlengkapan seperti celemek dan sarung tangan.
“Memang perlu ada training yang cukup, karena melibatkan sekolah, melibatkan siswanya. Siswanya harus pakai celemek, kemudian pakai sarung tangan. Dia piket, lima sampai enam orang dia melayani temannya,” ujar Sudaryono.
Menurut dia, jika sekolah dan SPPG sudah terbiasa menjalankan sistem tersebut, penerapan prasmanan di kelas diharapkan dapat berjalan lebih efektif.
Sudaryono menyebut sistem prasmanan MBG di kelas memiliki kemiripan dengan praktik penyajian makanan di sejumlah negara, salah satunya Jepang.
Ia mengatakan, BGN sebelumnya telah melihat penerapan sistem tersebut bersama Japan International Cooperation Agency (JICA).
Dalam sistem itu, makanan dimasak di dapur pusat atau central kitchen, kemudian didistribusikan ke sekolah dalam kondisi hangat untuk disajikan kepada siswa.
“Kami sudah melihat kemarin JICA dengan Jepang, itu kemudian central kitchen. Jadi dimasak di central kitchen, kemudian dibagi ke sekolah-sekolahnya dalam bentuk hangat-hangat, prasmanan di kelas,” tutur Sudaryono.
Uji coba sistem prasmanan MBG di kelas saat ini dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Jayapura, Papua.
Sudaryono mengatakan, BGN tidak hanya ingin melihat keberhasilan sistem tersebut, tetapi juga mengidentifikasi berbagai persoalan yang mungkin muncul selama pelaksanaan.
“Jadi kita piloting di banyak wilayah, nanti kita lihat. Kita kan ingin lihat masalah. Kita bukan mau cerita-cerita sukses, tapi kita juga mau melihat persoalan-persoalannya apa,” katanya.
Menurut Sudaryono, hasil uji coba tersebut nantinya akan menjadi bahan evaluasi sebelum sistem prasmanan diterapkan lebih luas.
Selain menjaga kesegaran makanan, sistem prasmanan di kelas juga diharapkan dapat mengurangi jumlah makanan yang terbuang.
Sudaryono mengatakan, berdasarkan laporan sementara yang diterima BGN, makanan yang disajikan dalam uji coba tersebut hampir seluruhnya habis.
“Sejauh ini, tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Artinya, lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa tambah,” ujarnya.
Ia menilai sistem prasmanan memungkinkan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhannya sehingga potensi makanan tersisa dan menjadi limbah dapat ditekan.
“Dengan prasmanan, waste-nya lebih sedikit,” kata Sudaryono.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah







