KARIMUN, KepriHeadline.id – Warga Kecamatan Moro mengeluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram yang kerap terjadi akibat keterlambatan distribusi. Kondisi ini dinilai mengganggu aktivitas rumah tangga, terutama untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Kelangkaan tersebut diduga dipicu oleh lambatnya pengiriman dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) yang berada di Tanjungbalai Karimun. Proses distribusi yang mengandalkan jalur laut dengan keterbatasan armada menjadi kendala utama.
Anto, salah satu pengecer gas di Moro, mengatakan keterlambatan distribusi bisa berlangsung hingga berhari-hari. Akibatnya, stok gas di tingkat pangkalan maupun pengecer cepat habis.
“Kosongnya gas subsidi di Moro karena distribusi dari Tanjungbalai Karimun terlalu lama, bisa sampai berhari-hari. Jadi stok habis dan terjadi kekosongan,” ujar Anto.
Ia menambahkan, kuota gas yang masuk ke wilayah Moro juga harus dibagi ke sejumlah pangkalan, sehingga ketersediaan menjadi semakin terbatas.
Hal senada disampaikan Rahmat, warga Moro, yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan memasak saat gas langka. Menurut dia, kondisi ini memaksa sebagian warga kembali menggunakan kayu bakar.
“Kadang ada, kadang tidak ada gas. Jadi susah juga untuk masak, terpaksa kembali pakai kayu bakar,” kata Rahmat.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat mencari solusi agar distribusi gas elpiji 3 kg ke Moro berjalan lebih lancar dan tidak lagi mengalami keterlambatan.
Selain masalah distribusi, warga juga menyoroti harga jual gas subsidi di tingkat pengecer yang mencapai Rp 28.000 per tabung, lebih tinggi dari harga eceran yang ditetapkan.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah






