KARIMUN, KepriHeadline.id – Musim kemarau yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada menurunnya debit air di sejumlah waduk di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
Salah satu yang terdampak signifikan adalah Waduk Sei Bati, yang kini mengalami penyusutan hingga 7,5 meter dari total kedalaman awal 10 meter.
Saat ini, kedalaman air di Waduk Sei Bati tersisa sekitar 2,5 meter. Penurunan tersebut menjadi perhatian serius karena waduk ini merupakan salah satu sumber utama pasokan air baku bagi masyarakat di Bumi Berazam.
Selain Sei Bati, dua waduk lainnya juga mengalami penyusutan meski dalam skala lebih kecil. Di Waduk Sentani, dari kedalaman awal 13 meter, terjadi penyusutan 1,5 meter sehingga tersisa 11,5 meter. Sementara itu, Waduk Pongkar mengalami penurunan 2 meter dari total kedalaman 15 meter dan kini berada di angka 13 meter.
Mengantisipasi dampak kekeringan, Dkrektur Perumda Tirta Mulia Karimun Ferry Kurniawan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna menjaga ketersediaan air bersih bagi pelanggan di Bumi Berazam.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menambah jam operasional pompa intake dari Waduk Sentani ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Bati.
Saat ini, suplai air baku ke Waduk Sei Bati masih berlangsung selama 16 jam per hari.
“Ke depan akan kita evaluasi sesuai kondisi di lapangan. Jika memang terjadi kekeringan lebih lanjut di Waduk Sei Bati, maka pengoperasian pompa penyadapan air baku ke IPA Sei Bati akan ditingkatkan menjadi 24 jam,” ujar Ferry, Minggu (15/2/2026).
Ia memastikanpelanggan tidak perlu khawatir. Pasalnya, jaringan perpipaan antara Waduk Sentani dan Waduk Sei Bati sudah terkoneksi, sehingga distribusi air baku dapat dialihkan dan dioptimalkan sesuai kebutuhan.
“Sudah terkoneksi, sehingga daoag kuta optimalkan,” katanya.
Dengan skema konektivitas tersebut, perusahaan optimistis pasokan air bersih untuk masyarakat Karimun tetap aman meski terjadi penurunan debit air di salah satu waduk utama.
(*)
Penulis : Ricky Robian Syah
Editor : Ricky Robian Syah






